Akhir Oktober tahun 2009 Presiden dan kabinetnya sudah mulai
bekerja penuh. Itu janji yang pernah disampaikan oleh presiden SBY
setelah terpilih kembali.
Sebagai rakyat biasa yang
menggeluti dunia pendidikan dan perpustakaan khususnya, siapapun yang
dipilih Presiden menjadi menteri pendidikan hendaknya orang yang
profesional dan berpengalaman serta paham benar apa arti dan tujuan
pendidikan termasuk yang diperlukan anak bangsa dalam memperoleh
pendidikan.
Sebenarnya lepasnya kebudayaan dari
Departemen Pendidikan yang kemudian berada di Kementerian Kebudayaan
dan Pariwisata banyak disesalkan oleh kalangan pendidikan. Hal ini
karena terkesan bahwa nilai-nilai kebudayaan kita lebih sebagai
komoditi dan urusan bisnis ketimbang sebagai hasil budaya dan warisan
leluhur yang wajib dilestarikan nilai-nilainya oleh generasi penerus
melalui pendidikan - pelatihan dan pengajaran.
Sampai
lebih dari 64 tahun Indonesia merdeka hampir kebanyakan pakar
mengatakan bahwa masih terjadi carut marut meskipun sistemnya beberapa
kali diperbarui. Mungkin karena yang memimpin departemen pendidikan
dianggap bukan ahlinya maka sering disorot sebagai hasil “uji coba”
sehingga ada pemeo ganti menteri ganti kebijaksanaan. Seandainya
hasilnya lebih baik patut disyukuri tapi kalau uji cobanya keliru,
alangkah malangnya anak-anak kita - para guru dan orang tua. Hal-hal
yang agak membingungkan adalah ketidakseimbangan di dalam memberikan
perhatian terhadap penerapan dan pengaturan untuk bidang ilmu tertentu.
Karena kita “ketinggalan” di bidang ilmu eksakta maka pelajaran di
bidang ilmu sosial dan humaniora kurang mendapat perhatian. Pendidikan
mengenai kebudayaan juga dirasakan kurang, khususnya di dalam penanaman
nilai dan norma etika serta rasa kebangsaan yang seharusnya ditanamkan
kepada anak didik sejak usia dini.
Banyak yang merasakan
bahwa anak-anak kita saat ini terlanda erosi dan polusi kebudayaan yang
cukup parah. Salah memilih menteri pendidikan bisa anak bangsa menjadi
taruhannya. Untuk beliau yang akan menjadi menteri pendidikan
ijinkanlah kami menyampaikan himbauan agar masalah-masalah yang belum
terselesaikan dapat dilanjutkan antara lain
- kiranya UAN dapat dipersiapkan lebih baik dengan landasan kejujuran dan peningkatan mutu guru secara merata.
- status perguruan tinggi sebagai badan usaha negara dapat diselesaikan secara arif dan bijaksana
- diskriminasi
memperoleh pendidikan dengan mutu yang sama untuk seluruh sekolah
negeri sedapat mungkin dikurangi sehingga dengan demikian semua
sekolah-sekolah Negeri mutunya relatif sama.
- program wajib
belajar khususnya untuk Sekolah Menengah Kejuruan perlu terus
ditingkatkan mutu dan jumlahnya. Namun tidak melupakan bahwa masih
ba-nyak anak-anak Indonesia yang tidak mampu mengikuti wajib belajar
Pendidikan Dasar 6 tahun dan 9 tahun.
- pendidikan mempunyai
peranan besar di bidang ketahanan nasional dan pembentukan karakter
bangsa. Semua akan berhasil bila dimulai pada usia dini, oleh karena
itu pendidikan dasar 6 tahun sangat perlu mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh sebagai dasar membentuk manusia yang berkarakter
sekaligus cerdas menyiasati kehidupan yang bermartabat dan sejahtera.
Selamat untuk Bapak/Ibu Menteri Pendidikan dan (Kebudayaan) baru, semoga harapan kami mendapat perhatian.
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin. (AS)